Sebenernya nista banget gw harus bahas beginian, sebisa mungkin sebenernya pengen menghindari SARAP (Suku, Agama, Ras, Antargolongan dan Pemilu). Tapi ya sud lah, toh sekedar menuliskan apa yg gw pikir, sapa tau berguna.

note : artikelnya tanpa gambar yah, biar fokus baca😛

Para capres-cawapres dari masing-masing kubu sedang berjualan untuk meraih suara, jualan bukan dalam arti khiasan saja tapi emang beneran jualan. Seperti halnya dunia marketing, jualan para capres-cawapres ini juga dengan mempublikasi sesuatu yang “diyakini” keunggulan tiap pasangan. Prabowo misalnya (cmiiw klo salah yah, cos gw harus hati-hati, salah dikit bisa ngomel nih kedua kubu) selalu ditonjolkan sebagai figur patriotik, cerdas, militer, orator handal, berwawasan luas, jaringan internasional yang kuat dan tentu rajin naek kuda😀. Sedang Jokowi (sekali lagi cmiiw), ya gak jauh dari kesan blusukan, rajin bekerja, anti birokrasi yg njelimet, memiliki terobosan dalam menyelesaiakan masalah, dekat dengan rakyat, dan yang pasti ndeso a.k.a kampungan.

Image seperti ini gak cuman ditampilkan pada tivi dan pemberitaan doang. Dalam kehidupan sehari-hari, sosok tersebut membawa image tersebut, entah emang beneran seperti itu atau ya emang lagi masa jualan saja.

Ya itulah yg namanya marketing. Dunia roda 2 juga seperti ini lho, orang kenal Honda ya irit dan awet, sedangkan Yamaha itu kentjang. Dihal yg lebih umum pun masih sering terjadi lho, “mas beli odol”, “ada tensoplast ?”. Dahsyat kan ? odol or tensoplast merupakan merk yg udah gak ada lagi di Indonesia, tapi masih sering dipake untuk merujuk kesuatu benda. Empat merk diatas berhasil menancapkan presepsi publik tentang brand yang mereka bawa. Honda irit awer, Yamaha kentjang, pasta gigi ya Odol, luka pake Tensoplast.

Pun begitu dengan Prabowo dan Jokowi, tim marketing mereka mencoba menanamkan presepsi tersebut ke masyarakat sebagai calon pemilih. Salahkah ? Enggak lah yah, wong pilpres itu emang momennya jualan kok, disalah satu artikel yg pernah saya baca pak Gita pun sempet keceplosan klo pilpres ya jualan image. Tapi tetep harus hati-hati, karena klo ditelen mentah-mentah cuman bikin placebo effect.

Misal : orang beli Honda pasti ngarepin motornya irit dan awet, membuat kustomer merasa aman membeli merk Honda. Tapi klo tuh motor 6 bulan gak pernah lu ganti oli or service ringan ya tetep aja rusak. Artinya efek menenangkan tersebut mungkin emang bener tapi pake bintang ketjil.

Pilpres juga gitu, jangan cuman liat kulit jualannya aja, tapi bedah juga besok mau pada ngapain tuh capres-cawapres klo kepilih, liat rekam jejaknya, siapa pengusungnya, siapa dibelakangnya, liat rekam jejak partai pengusungnya. Sedikit penekanan pada point terakhir IMHO, capres-cawapresnya nothing to do jika partai pengusungnya tidak memiliki rekam jejak yang mampu menyelesaikan janjinya.

Nah sekarnag peran bro-sis semua untuk membedah semua itu dari masing-masing pasangan. Udah pada pinter toh ? Ato mau yang simpel dan percaya apa yg disodorin tim marketing ? Ato malah percaya artikel bece ? BCL kaleeeee😛

Okeh semoga berguna…

ps : klo gw lagi gak waras mungkin akan bersambung ke artikel “Mencari Pesan Pesan Positif dari Artikel BeCe”, gak janji tapi sapa tau sempet😀